Tampilkan postingan dengan label Kalimantan Selatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kalimantan Selatan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Desember 2013

Pasar Terapung


Pasar Terapung Muara Kuin adalah Pasar Tradisional yang berada di atas sungai Barito di muara sungai Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Para pedagang dan pembeli menggunakan jukung, sebutan perahu dalam bahasa Banjar. Pasar ini mulai setelah shalat Subuh sampai selepas pukul 07:00 pagi. Matahari terbit memantulkan cahaya di antara transaksi sayur-mayur dan hasil kebun dari kampung-kampung sepanjang aliran sungai Barito dan anak-anak sungainya.

Suasana dan kegiatan pasar

Dengan menyaksikan panoramanya, wisatawan seakan-akan sedang tamasya. Jukung-jukung dengan sarat muatan barang dagangan sayur mayur, buah-buahan, segala jenis ikan dan berbagai kebutuhan rumah tangga tersedia di pasar terapung. Ketika matahari mulai muncul berangsur-angsur pasar pun mulai menyepi, sang pedagang pun mulai beranjak meninggalkan pasar terapung membawa hasil yang diperoleh dengan kepuasan.
Suasana pasar terapung yang unik dan khas adalah berdesak-desakan antara perahu besar dan kecil saling mencari pembeli dan penjual yang selalu berseliweran kian kemari dan selalu oleng dimainkan gelombang sungai Barito. Pasar terapung tidak memiliki organisasi seperti pada pasar di daratan, sehingga tidak tercatat berapa jumlah pedagang dan pengunjung atau pembagian pedagang bersarkan barang dagangan.Para pedagang wanita yang berperahu menjual hasil produksinya sendiri atau tetangganya disebut dukuh, sedangkan tangan kedua yang membeli dari para dukuh untuk dijual kembali disebut panyambangan. Keistemewaan pasar ini adalah masih sering terjadi transaksi barter antar para pedagang berperahu, yang dalam bahasa Banjar disebut bapanduk, sesuatu yang unik dan langka.

Potensi wisata

Obyek wisata ini sering dianggap sebagai daya tarik yang fantastik, Banjarmasin bagaikan Venesia di Timur Dunia, karena keduanya memiliki potensi wisata sungai. Namun kedua kota berbeda alam dan latar belakang budayanya. Di Banjarmasin masih banyak ditemui di sepanjang sungai rumah-rumah terapung yang disebut rumah lanting, yang selalu oleng dimainkan gelombang.

Daerah Kuin merupakan tipe permukiman yang berada di sepanjang aliran sungai (waterfront village) yang memiliki beberapa daya tarik pariwisata, baik berupa wisata alam, wisata budaya maupun wisata budaya. Kehidupan masyarakatnya erat dengan kehidupan sungai seperti pasar terapung, perkampungan tepian sungai dengan arsitektur tradisionalnya. Hilir mudiknya aneka perahu tradisional dengan beraneka muatan merupakan atraksi yang menarik bagi wisatawan, bahkan diharapkan dapat dikembangkan menjadi desa wisata sehingga dapat menjadi pembentuk citra dalam promosi kepariwisataan Kalimantan Selatan. Masih di kawasan yang sama wisatawan dapat pula mengunjungi Masjid Sultan Suriansyah dan Komplek Makam Sultan Suriansyah, pulau Kembang, pulau Kaget dan pulau Bakut. Di Kuin juga terdapat kerajinan ukiran untuk ornamen rumah Banjar.

Kini pasar terapung Kuin dipastikan menyusul punah berganti dengan pasar darat. Banyak wisatawan yang berkunjung ke Kuin harus menelan kekecewaan karena tidak menjumpai adanya geliat eksotisme pasar di atas air.
Kepunahan pasar tradisional di daerah "seribu sungai" ini dipicu oleh kemaruk budaya darat serta ditunjang dengan pembangunan daerah yang selalu berorientasi kedaratan. Jalur-jalur sungai dan kanal musnah tergantikan dengan kemudahan jalan darat. Masyarakat yang dulu banyak memiliki jukung, sekarang telah bangga memiliki sepeda motor atau mobil.

Pasar Terapung Buatan

Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin Kalimantan Selatan (Kalsel) akan membangun pasar terapung tradisional yang selama ini berada di atas sungai Barito di muara sungai Kuin, Banjarmasin ke sungai kerokan jalan Zafi Zam-Zam.
Gagasan membangun pasar terapung buatan tersebut bertujuan untuk memudahkan wisatawan yang ingin menyaksikan pasar terapung tanpa harus jauh-jauh ke muara kuin. Selain itu kita juga ingin melestarikan dan terus membina para pedagang pasar terapung yang kini terus berkurang.
Sebagaimana diketahui, untuk bisa menyaksikan pasar terapung para wisatawan harus rela bangun sebelum subuh untuk menuju ke sungai Barito Muara Kuin Banjarmasin dengan mengendarai kapal kayu bermesin atau disebut kelotok.
Wisatawan pun juga harus rela menembus dinginnya suasana pagi dengan perjalanan sekitar setengah jam dari dermaga pemberangkatan yang terletak di depan masjid bersejarah Sultan Suriansyah.
Kondisi tersebut membuat sebagian wisatawan enggan untuk bisa menikmati eksotiknya wisata pasar terapung, karena terlambat sedikit pasar yang kini pedagangnya terus berkurang tersebut telah bubar.
Dengan adanya pasar terapung yang aksesnya lebih mudah terjangkau oleh wisatawan akan mampu menyedot wisatawan lokal, nasional maupun mancanegara lebih banyak lagi datang ke Banjarmasin.
Saat ini pasar terapung masih merupakan wisata andalan Kalsel, yang bila tidak dijaga kelestariannya dikhawatirkan akan menghilang tergerus oleh pasar-pasar modern.
Sekarang ini antara wisatawan dan pedagangnya lebih banyak wisatawannya, sehingga bila kondisi ini dibiarkan dikhawatirkan lama kelamaan pasar terapung tinggal menjadi sejarah.
Tentang kunjungan wisatawan di Kalsel, berdasarkan data dari Dinas Pariwisata Kalsel jumlahnya terus bertambah. Namun bertambahnya jumlah tersebut apakah murni wisatawan atau tamu yang kebetulan berkunjung untuk tugas atau perjalanan dinas atau memang ingin menyaksikan wisata Kalsel.

Sumber :
http://www.banjarmasinkota.go.id/wisata/objek-wisata/pasar-terapung.html 

Masjid Raya Sabilal Muhtadin



Masjid Raya Sabilal Muhtadin adalah sebuah masjid besar yang berada di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Indonesia, tepatnya di kelurahan Antasan Besar, kecamatan Banjarmasin Tengah. Di dalam kompleks mini juga terdapat kantor MUI Kalimantan Selatan. Masjid ini dibangun di tepi barat sungai Martapura dan dibangun pada tahun 1981. Di Masjid ini akan diselenggarakan Seleksi Tilawatil Quran Nasional (STQN) Ke XXI 2011 pada tanggal 4-11 Juni 2011.
 
Sabilal Muhtadin, nama pilihan untuk Mesjid Raya Banjarmasin ini, adalah sebagai penghormatan dan penghargaan terhadap Ulama Besar alm. Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (1710—1812) yang selama hidupnya memperdalam dan mengembangkan agama Islam di Kerajaan Banjar atau Kalimantan Selatan sekarang ini. Ulama Besar ini tidak saja dikenal di seluruh Nusantara, akan tetapi dikenal dan dihormati melewati batas negerinya sampai ke Malaka, Filipina, Bombay, Mekkah, Madinah, Istambul dan Mesir.

Sumber :

Taman Maskot


Taman Maskot adalah sebuah taman kota yang didalamnya dibangun  patung Maskot Kalimatan Selatan yaitu Pohon Kasturi dan Bekantan. Pohon Kasturi adalah pohon mempunyai buah seperti mangga yang berbau harum dan rasanya manis yang khas. Sedangkan Bekantan (Nasalis Larvatus) adalah fauna khas kalimantan yang unik sejenis kera yang mempunyai hidung yang panjang dan sangat pemalu, hewan ini bisa kita temukan di Pulau Kaget.

Taman ini juga terletak di Jl. Djok Mentaya didalam Komplek Masjid Raya Sabilal Muhtadin yang berada di pusat Kota Banjarmasin. Taman Maskot dibuka untuk umum pada hari Sabtu dan Minggu. Taman Maskot merupakan tempat yang cocok bagi keluarga anda untuk bersantai dengan keluarga, disini juga disediakan fasilitas bermain untuk anak-anak. Jadi, bagi anda yang ingin melepas lelah sambil memanjakan anak anda dengan permainan yang seru, Taman Maskot bisa jadi pilihan yang menarik dan murah karena tidak ada biaya yang dipungut ketika masuk ke tempat ini.

Sumber : 

Taman Siring Sungai Martapura




Taman Siring Sungai Martapura berada di pinggir Sungai Martapura, tepatnya diseberang Kompleks Mesjid Raya Sabilal Muhtadin Jl. Jendral Sudirman Banjarmaasin. Taman Siring Sungai Martapura dibangun pada tahun 2004 . Hal ini membuat objek wisata ini, bisa menjadi pilihan yang tepat bagi anda untuk bersantai dan bercengkrama dengan keluarga atau sesama teman.
Kota Banjarmasin yang identik dengan Kota Seribu Sungai rasanya tidak lengkap anda kunjungi jika tidak sempat ke Taman Siring Sungai Martapura. Dengan   akses yang mudah dan tanpa biaya masuk, tempat ini layak masuk dalam daftar tempat yang harus dikunjungi ketika di Banjarmasin.
Pada Akhir pekan,  tempat ini cukup ramai dikunjungi oleh warga Banjarmasin. Baik hanya sekedar untuk bersantai atau hanya sekedar menikmati angin sepoi-sepoi di sore hari. Tempat ini juga dijadikan tempat hang out bagi para muda – mudi Banjarmasin.

Sumber :



 

Pasar Wadai Ramadhan





Siapapun yang bertandang ke Banjarmasin di Bulan Ramadhan pasti terkagum-kagum melihat suasana bulan suci yang begitu kental. Nuansa religi begitu tampak di tiap-tiap sudut kota.

Yang membuat Banjarmasin lebih khas saat Ramadhan, adanya pergelaran rutin Pasar Wadai. Di sinilah magnet kota Banjarmasin. saat sore menjelang berbuka. Beragam kue (wadai) tradisional khas Banjar dipajang memunculkan suasana khas Banjar senyatanya. Pasar Wadai  ini dilaksanakan di Jalan Sudirman tepatnya di depan Hotel Batung Batulis hingga Depan  Kantor Gubernur ataupun di depan Mesjid Raya Sabilal Muhtadin
Diantara ratusan stand yang ada,  Anda bisa memilih beragam wadai dengan citarasa tinggi. Bahkan wadai yang hari-harinya sudah sulit ditemui di pasaran, di Pasar Wadai bisa ditemukan.
Sebagai even besar tahunan yang namanya telah menasional, Pasar Wadai juga menyedot para pedagang lain berjualan di situ. Selain aneka kue basah khas Banjar, di Pasar Wadai juga dijual aneka jenis lauk seperti  ayam dan ikan bakar, juga dijual makanan-makanan khas Arab.
Di Pasar Wadai ini pula anda akan menemukan kue khas Banjar yang banyak penggemarnya, kue tersebut adalah Kue Bingka. Kue Bingka adalah kue yang sangat populer dan banyak menjadi favorit warga banjar. Kue bingka sendiri ada beberapa macam, dari bingka kentang, keju, kelapa muda, telur sampai dengan nangka. Selain kue bingka anda juga bisa menemukan aneka jenis kue yang lain seperti Putri Selat, Amparan Tatak Pisang, Pais, dan lain-lain.
Karenanya, bagi warga Banjarmasin dan Kalsel dan sekitarnya, Pasar Wadai merupakan tempat belanja untuk berbuka puasa yang sangat lengkap selain tempat ngabuburit yang mengasyikan. Sedangkan bagi wisatawan, inilah tempatnya wisata kuliner menjelajahi citarasa Banjar.

Kain Sasirangan








Kain Sasirangan ini asal mulanya digunakan atau dipercaya untuk kesembuhan bagi orang yang tertimpa suatu penyakit (pamintaan). Kain ini dipakai pada upacara adat suku daerah Banjar. Kain sasirangan ini berbentuk laung (ikat kepala), kekamban (kerudung) dan tapih bumin (kain sarung). Sebagai bahan pewarna diambil dari bahan bahan pewarna alam seperti jahe, air pohon pisang, daun pandan dll.
Menurut sejarah sekitar abad XII sampai abad ke XIV pada masa kerajaan Dipa, di Kalimantan Selatan telah dikenal masyarakat sejenis batik sandang yang disebut Kain Calapan yang kemudian dikenal dengan nama Kain Sasirangan.
Menurut cerita rakyat atau sahibul hikayat, kain sasirangan yang pertama dibuat yaitu tatkala Patih Lambung Mangkurat bertapa selama 40 hari 40 malam di atas rakit balarut banyu. Menjelang akhir tapanya rakit Patih tiba di daerah Rantau kota Bagantung. Dilihatnya seonggok buih dan dari dalam buih terdengan suara seorang wanita, wanita itu adalah Putri Junjung Buih yang kelak menjadi Raja di Banua ini. Tetapi ia baru muncul ke permukaan kalau syarat-syarat yang dimintanya dipenuhi, yaitu sebuah istana Batung yang diselesaikan dalam sehari dan kain dapat selesai sehari yang ditenun dan dicalap atau diwarnai oleh 40 orang putri dengan motif wadi / padiwaringin. Itulah kain calapan / sasirangan yang pertama kali dibuat.
Kain Sasirangan adalah kain yang didapat dari proses pewarnaan rintang dengan menggunakan bahan perintang seperti tali, benang atau sejenisnya menurut corak-corak tertentu. Pada dasarnya teknik pewarnaan rintang mengakibatkan tempat-tempat tertentu akan terhalang atau tidak tertembus oleh penetrasi larutan zat warna. Prosesnya sering diusahakan dalam bentuk industri rumah tangga, karena tidak diperlukan peralatan khusus, cukup dengan tangan saja untuk mendapatkan motif maupun corak tertentu, melalui teknik jahitan tangan dan ikatan.
Sebagai bahan baku kainnya, yang banyak digunakan hingga saat ini adalah bahan kain yang berasal dari serat kapas (katun). Hal tersebut disebabkan karena pada mulai tumbuhnya pembuatan kain celup ikat adalah sejalan dengan proses celup rintang yang lain seperti batik dan tekstil adat. Untuk saat ini pengembangan bahan baku cukup meningkat, dengan penganekaragaman bahan baku non kapas seperti : polyester, rayon, sutera, dan lain-lain.
Desain/corak didapat dari teknik-teknik jahitan dan ikatan yang ditentukan oleh beberapa faktor, selain dari komposisi warna dan efek yang timbul antara lain : jenis benang/jenis bahan pengikat.
Dengan mengkombinasikan antara motif-motif asli yang satu dengan motif asli yang lainnya, maka kain kain sasirangan makin menarik dan kelihatan modern Selain itu motif-motif tersebut dimodifikasi sehingga menciptakan motif-motif yang sangat indah namun tidak meninggalkan ciri khasnya. Adapun corak atau motif yang dikenal antara lain Kembang Kacang, Ombak Sinapur Karang, Bintang Bahambur, Turun Dayang, Daun Jaruju, Kangkung Kaombakan, Kulit Kayu, Sarigading, Parada dll.
Produk barang jadi yang dihasilkan dari kain Sasirangan yaitu Kebaya, Hem, Selendang, Jilbab, Gorden, Taplak Meja, Sapu Tangan, Sprei dll. Penggunaan Kain Sasirangan inipun lebih meluas yaitu untuk busana pria maupun wanita yang dipakai sehari-hari baik resmi atau tidak.

Kue Bingka Kentang




Banjarmasin memiliki salah satu kue khas yaitu Bingka. Bingka adalah sejenis kue basah yang berbahan dasar tepung, gula pasir, kentang dan santan yang berbentuk kerucut. Bingka dapat dengan mudah ditemukan dan dijual pada saat bulan Ramadhan, biasanya di pasar-pasar kue  atau yang sering masyarakat Banjar sebut “Pasar Wadai”. Jadi, selain bulan Ramadhan akan agak sulit menemukan kue bingka kecuali di tempat-tempat tertentu seperti perkampungan di pinggiran kota dan biasakan di jajakan oleh “Acil-acil” penjaja kue.

Dahulu kue Bingka hanya  memiliki satu rasa tetap yaitu Kentang, namun seiring dengan perkembangan zaman kue bingka mulai berevolusi dengan hadirnya rasa-rasa baru seperti Tape atau masyarakat banjar biasa menyebut “Tapai”, Nangka, Kurma dan lainnya.

Sayangnya, dikarenakan kebanyakannya Bingka di buat tanpa bahan pengawet, hanya dalam beberapa hari saja kue ini menjadi kadarluarsa sehingga bagi para wisatawan tidak akan bisa menjadikannya sebagai oleh-oleh.

Kue ini sering di santap untuk sajian bulan puasa dan  biasanya bingka dijadikan sebagai makanan pembuka ditemani dengan kurma karena rasanya yang manis. Jika Bulan Ramadhan, di depan Mesjid Sabilal Muhtadin banyak pedagang yang menyediakan kue ini, jika anda sempat berkunjung ke kota Banjarmasin, sangat di sarankan untuk menikmati kue bingka pada waktu berbuka sambil bersantai disiring dengan pemandangan Sungai Martapaura Banjarmasin.

Ketupat Kandangan



Ketupat Kandangan (Bahasa Banjar: Katupat Kandangan) merupakan kuliner khas yang berasal dari daerah Kandangan, Kalimantan Selatan. Seperti ketupat pada umumnya, bahan untuk membuat ketupat berasal dari beras. Perbedaan ketupat Kandangan dengan jenis ketupat lainnnya adalah penggunaan ikan gabus (haruan) sebagai menu pelengkap. Ikan gabus sebelumnya harus di panggang dulu sebelum direbus menggunakan santan.Kemudian, Ikan Gabus beserta kuahnya disiramkan ke ketupat. Kuliner ini dapat dimakan untuk makan pagi, siang atau malam.

Ketupat disiram dengan kuah bersantan yang diracik dari bumbu-bumbu tradisional seperti kayu manis, pala, cengkih, dan kapulaga. Kuah agak kental dengan rasa yang sangat khas gurih. Untuk bersantap biasanya ada sepotong ikan asap. Ikannya bisa gurame, patin, atau gabus. 

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Ketupat_Kandangan

Senin, 16 Desember 2013

Soto Banjar




Soto banjar adalah salah satu kuliner favorit saya. Soto banjar di hidangkan dengan suwiran ayam, telur rebus, perkedel kentang serta ketupat, kuah soto banjar biasanya bening ataupun bercampur dengan susu. Soto banjar biasanya di hidangkan bersama sate ayam.

Selasa, 03 Desember 2013

Selayang Pandang Kota Banjarmasin

Kota Banjarmasin (Latin: Bandiermasinensis) adalah salah satu kota sekaligus merupakan ibu kota dari provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Kota Banjarmasin merupakan Pusat Kegiatan Wilayah (PKW), sebagai Kota Pusat Pemerintahan (Ibukota Provinsi Kalimantan Selatan) serta sebagai pintu gerbang nasional dan kota-kota pusat kegiatan ekonomi nasional. Juga merupakan kota penting di wilayah Kalimantan Selatan yang saat ini memiliki posisi yang sangat strategis secara geografis.

Kota yang terpadat di Kalimantan ini termasuk salah satu kota besar di Indonesia, walau luasnya yang terkecil di Kalimantan. Kota yang dijuluki kota seribu sungai ini merupakan sebuah kota delta atau kota kepulauan sebab terdiri dari sedikitnya 25 buah pulau kecil yang merupakan bagian-bagian kota yang dipisahkan oleh sungai-sungai diantaranya pulau Tatas, pulau Kelayan, pulau Rantauan Keliling, pulau Insan dan lain-lain.

Kota Banjarmasin terletak pada 3°15' sampai 3°22' Lintang Selatan dan 114°32' Bujur Timur, ketinggian tanah asli berada pada 0,16 m di bawah permukaan laut dan hampir seluruh wilayah digenangi air pada saat pasang. Kota Banjarmasin berlokasi daerah kuala sungai Martapura yang bermuara pada sisi timur Sungai Barito. Letak Kota Banjarmasin nyaris di tengah-tengah Indonesia.

Sungai menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Kota Banjarmasin sehingga Banjarmasin mendapat julukan "kota seribu sungai" meski sungai yang mengalir di Banjarmasin tak sampai seribu. Sungai menjadi wadah aktivitas utama masyarakat zaman dahulu hingga sekarang, utamanya dalam bidang perdagangan dan transportasi. 

Sungai-sungai yang membelah kota ini, diupayakan sebagai magnet ekonomi, khususnya pariwisata. Data dari Dinas Kimprasko Banjarmasin menunjukkan pada 1997 di Ibu Kota Kalimantan Selatan itu terdapat 117 sungai, kemudian pada 2002 berkurang menjadi 70 sungai, lalu pada 2004 sampai sekarang hanya tinggal 60 sungai. 

Ini lah sekilas tentang Kota Banjarmasin Bungas semoga bermanfaat ^_^